Berita dan Pengumuman

[PDT 0] Meet The Gentlemen

Berakhir sudah seleksi JSCYP Beijing 2017 yang diadakan pada tanggal 22-30 Juli 2017 lalu. Seleksi diikuti oleh 96 pendaftar yang antusias. Dari 96 pendaftar tersebut, hanya 3 orang yang terpilih; Anugrah Oky Pratama (Angga), Scherzo Wahid Naiborhu, dan Stiven Lim. Mari kita berkenalan dengan The Gentlemen yang akan mewakili Jakarta di Beijing Sister City Camp and International Youth Forum 2017 di Beijing, Tiongkok. Jawaban dari mereka ditandai dengan ‘AN’ untuk Angga, ‘ST’ Stiven, dan ‘SC’ Scherzo.

Kiri ke kanan: Angga, Scherzo, dan Stiven.


Siapa itu Angga, Scherzo, dan Stiven?

AN: Saya merupakan lulusan dari jurusan Hubungan Internasional, Universitas Nasional pada Maret 2016 lalu yang alhamdulillah mendapatkan predikat kelulusan Cum Laude (Dengan Pujian) dalam waktu 3,5 tahun. Sejak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga tamat pada tataran universitas, saya memang sudah memiliki ketertarikan di bidang Human Development and Social Activity (Pembangunan Manusia dan Aktivitas Sosial) serta melibatkan diri saya dalam berbagai kegiatan organisasi baik internal maupun eksternal. Hal tersebut yang sedikit banyak memberikan kesempatan pada saya dalam mendapatkan pengalaman lainnya dibidang non-akademik baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

SC: Saya adalah seorang pemuda yang sudah pernah merasakan tinggal di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan mengikuti orang tua yang berpindah-pindah karena tugas pekerjaan. Saya lulus kuliah dari President University, salah satu Universitas berstandar internasional di Indonesia, dengan jurusan Banking & Finance dalam waktu 3,5 tahun. Saat ini saya bekerja di Bank UOB Indonesia sebagai seorang commercial banker. Salah satu passion saya adalah character and soft-skill develompent. Hal tersebut yang memacu saya untuk aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kepemudaan. Saya pernah bersama beberapa orang teman mendirikan sebuah Non-Government Organization yang berfokus pada pengembangan soft-skills pemuda Indonesia, yaitu Youth Corps Indonesia. Saya juga merupakan alumni dari program XL Future Leaders, sebuah beasiswa pelatihan leadership dan soft-skills dari PT XL Axiata Tbk bagi 140 mahasiswa terbaik di Indonesia selama 2 tahun. Disamping itu, saya juga memililki ketertarikan yang besar dalam bertukar pikiran dan mengenalkan Indonesia kepada pemuda dari negara lain. Saya pernah mewakili Indonesia di beberapa konferensi, pertukaran pelajar, dan workshop Internasional, diantaranya ASEAN-Korea Youth Network Workshop 2016, World Culture Forum 2016, dan Orange ASEAN Circular Economy Edition yang diadakan oleh pemerintah Belanda. Disini saya merupakan 1 dari 3 delegasi terpilih untuk mewakili Jakarta serta Indonesia dalam Jakarta Sister City Youth Program to Beijing 2017

ST: Saya seorang pemuda asal Bengkalis, sebuah pulau yang terletak di Selat Malaka berbatasan dengan Malaysia. Penerima Beasiswa Dharmasiswa Chevron ini dengan semangat merantau ke Jakarta dan menempuh pendidikan di Binus University jurusan Corporate Public Relations. Menguasai bahasa Mandarin, Hokkien, dan Melayu serta bahasa Tibet. Di luar kesibukan kuliah, saya juga aktif di beberapa komunitas yaitu Pusat Informasi dan Konseling Remaja Nuansa yang telah saya ikuti sejak SMA dan diteruskan sampai ke Jakarta dengan menjadi Duta Generasi Berencana Jakarta Barat dan favorit TK DKI Jakarta 2016 dengan beberapa proyek yang diterapkannya. Selain itu, saya juga menjadi aktivis di Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Lamrim Nusantara sebagai content writer, penerjemah, dan komunikasi pemasaran. Saya juga aktif dalam isu sosial terkait pemuda dalam hal isu kesehatan seksual dan reproduksi dan sempat mewakili Indonesia pada International Conference on Family Planning 2016 dan FEALAC Youth Conference 2015. Saya aktif sebagai Merry Riana Corporate Ambassador yang menjadi tempat bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuan public speaking. Di samping kesibukan yang beragam, saya juga aktif dalam kewirausahaan. Dan pada kesempatan ini saya menjadi 1 dari 3 delegasi Jakarta Sister City Youth Program Beijing 2017.

Apa yang membuat kalian tertarik untuk bergabung dengan JSCYP?

AN: Jakarta Sister City Youth Program (JSCYP) menurut saya bukan hanya sebuah wadah bagi anak muda untuk melaksanakan program ke luar negeri secara gratis yang nantinya akan mewakili Jakarta dan Indonesia pada kancah internasional. Namun, program ini membawa misi diplomasi yang cukup penting bagi para delegasi. Kita diharakan dapat memberikan citra yang baik terhadap Jakarta dan Indonesia pada tataran global, serta memperkenalkan lebih dalam gagasan dan budaya yang kita miliki. Selain itu, JSC memiliki agenda Pre-Departure Training (PDT) dimana para delegasi akan diberikan pelatihan / pengarahan secara komprehensif terkait pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh para delegasi dalam menjalankan program ini. Selain itu JSC juga memiliki agenda Post-Program Activity (PPA) di mana usai kembalinya para delegasi ke Indonesia, kita diwajibkan membuat suatu aktivitas yang konkrit serta berdampak langsung pada masyarakat Indonesia khususnya Jakarta itu sendiri. Sehingga informasi / pengalaman yang kita dapatkan selama program tersebut berlangung, dapat pula dirasakan oleh masyarakat disekitar kita. Hal tersebutlah kemudian, yang menurut saya membedakan JSC dengan program kepemudaan lainnya, sehingga pada akhirnya membuat saya tertarik pada Youth Program ini.

SC: Ada tiga alasan utama mengapa saya tertarik untuk mengikuti program JSCYP 2017. Yang pertama adalah saya ingin mempelajari bagaimana China khususnya kota Beijing dapat menjadi semaju seperti sekarang mengingat China baru merdeka pada tahun 1949, 4 tahun setelah Indonesia merdeka dengan harapan dapat mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana pemerintah serta rakyat dan para stakeholder di Beijing berkontribusi terhadap perkembangan kotanya dalam aspek ekonomi, pembangunan infrastruktur, teknologi, serta budaya yang nantinya akan dapat berguna bagi saya dalam membangun kota Jakarta. Kedua, sebagai seorang bankir dan Economics enthusiast, saya ingin mempromosikan kepada para peserta Beijing Youth Camp yang berasal dari kurang lebih 50 Kota di dunia bahwa keaadaan ekonomi di Indonesia yang sedang berkembang pesat dengan berbagai pembangunan infrastruktur untuk menunjang perekonomian dengan harapan para pemuda tersebut dapat menyampaikan ke pemerintah beserta stakeholder masing-masing negaranya mengenai kondisi positif perekonomian Indonesia. Terakhir, saya secara personal ingin mengembangkan network serta pertemanan secara global, karena saya percaya bahwa koneksi adalah salah satu hal yang sangat penting untuk kedepannya.

ST: Honestly speaking, I’ve been to many places in Indonesia, but never abroad even for once. Although I live so close to Malaysia and Singapore. JSCYP menawarkan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman internasional dan memperluas jejaring yang mana saya dapat bertukar pikiran dengan para pemuda dari berbagai negara. Selain itu, dapat mewakili Jakarta dan Indonesia memiliki kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Secara personal saya menyukai sejarah dan biografi, karena tujuannya adalah ke-Beijing yang menarik perhatian saya untuk mencari tahu dan mempelajari tentang bagaimana perjalanan historis kota yang berusia lebih dari 3.000 tahun dapat menjadi seperti sekarang ini.

Apa reaksi kalian saat mengetahui kalian terpilih sebagai Delegasi JSCYP Beijing 2017?

AN: ‘Campur aduk’ antara senang, sedikit haru, dan kaget tentunya, saat Gideon (Ketua IKAP JSCYP) menghubungi saya malam usainya penyeleksian JSC Beijing 2017. Senang sekaligus terharu karena akhirnya setelah 3 kali mencoba kegiatan ini pada destinasi yang sama yakni Beijing, akhirnya pada tahun ke 4 saya berhasil menjadi bagian dari program ini. Sungguh perjalanan yang tidak bisa saya lupakan begitu saja. Kaget, karna sejujurnya memang tahun ini para peserta yang ikut luar biasa hebatnya dengan latar belakang dan prestasi masing-masing. Jadi jelas saja, saya sedikit tidak percaya kalau tahun ini bisa lolos seleksinya.

SC: Sejujurnya saya sangat terkejut serta senang disaat yang bersamaan begitu mengetahui bahwa saya terpilih dan dipercaya untuk mewakili Indonesia, khususnya Jakarta membawa misi diplomatis ke kancah Internasional. Saya terkejut mengingat betapa kompetennya seluruh peserta seleksi JSCYP 2017 sehingga dapat terpilih di antara teman-teman hebat lainnya merupakan suatu kehormatan bagi saya. Saya pun sangat bersyukur dapat terpilih dan akan memberikan yang terbaik bagi Jakarta.

ST: Waktu itu baru mau balik ke kos, terus ceritanya habis beli makan malam, jalan ke kos, ternyata lupa bawa kunci dan teman satu kos sedang keluar untuk waktu yang tak diketahui. Mengungsilah saya ke kos teman. Pada saat makan, ditelpon dan dikonfirmasi bahwa saya terpilih menjadi delegasi. Spontan capek, lapar dan kesal saat itu semuanya hilang. Rasanya sangat senang, dalam pikiran kecil saya mengatakan akhirnya saya bisa berkesempatan untuk melihat dunia luar yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari gadget saya. Thanks, Buddha.

Apa hal yang paling berkesan bagi kalian selama proses seleksi?

AN: Bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan menginspirasi. Saya ingat betul saat seleksi bertemu dengan berbagai macam peserta dengan latar belakang pendidikan yang hebat, seperti dari UI, UGM, IPB, UPH, dan bahkan ada pula lulusan luar negeri yang ikut seleksi JSC ini. Tak hanya dalam segi akademik, saya juga bertemu dengan orang-orang yang memiliki kemampuan entrepreneurship yang tinggi, dimana dalam usia yang terbilng masih muda tapi sudah memiliki bisnis start-up sendiri. Selain itu banyak juga peserta dengan kemampuan bahasa asing yang luar biasa, dan pribadi-pribadi hebat lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

SC: In my view, salah satu dari banyak hal berkesan selama proses seleksi adalah sesi wawancara berbahasa Inggris dikarenakan topiknya yang sangat luas serta interaksi yang dinamis dengan pewawancara. Aspek-aspek seperti ekonomi, politik, sosial tidak lepas dari perdebatan selama sesi wawancara. Pewawancara sangat kritis dalam melakukan counter terhadap setiap jawaban saya. Saya pun harus memutar otak untuk meyakinkan pewawancara dengan jawaban dan argumen saya. Di samping itu, saya juga harus meyakinkan pewawancara bahwa saya layak untuk mewakili Jakarta dalam program ini. Sesi ini merupakan one of the most challenging selection processes of JSCYP 2017 yang saya alami

ST: Paling berkesan adalah ketika wawancara bahasa Inggris. The range of topics and questions were so wide and unrelated and it required lots of information you need to read. Pewawancaranya juga sangat kritis and tegas. Oh, tentu saya juga tidak mau kalah, walau tidak tahu jawabannya apa dan entah betul atau salah, yang terpenting adalah percaya diri dan keyakinan bahwa data yang saya sampaikan adalah absah sesuai dengan yang saya baca.

Bagaimana JSCYP bisa menyoroti apa yang bisa dilakukan pemuda Indonesia kepada dunia?

AN: Pada program JSC tujuan Beijing setiap tahunnya, para delegasi akan datang pada Global Youth Camp yang dihadiri oleh berbagai negara dari penjuru dunia. Hal ini yang kemudian menjadi kesempatan berharga bagi para delegasi guna menyampaikan ide-ide yang solutif terhadap isu yang menjadi pembahasan pada forum tersebut, sehingga menunjukan secara langsung kapabilitas dari pemuda/i Indonesia di dunia internasional. Itulah mengapa, para delegasi diberikan pelatihan secara maksimal dalam PDT, agar nama baik Indonesia yang setiap tahun-nya sudah harum, nantinya dapat dipertahankan dan semakin baik pula citra yang dimiliki oleh Indonesia ke depannya.

SC: JSCYP tentunya merupakan wadah kreativitas pemuda Indonesia di kancah Internasional. Dengan adanya Beijing Youth Camp sebagai bagian dari program JSCYP yang mana dalam youth camp tersebut nantinya akan ada para pemuda dari 50 kota di dunia yang hadir, maka tentunya pemuda Indonesia dengan segala kreativitasnya dapat menunjukkan pada para perwakilan dari 50 negara tersebut bahwa Indonesia memiliki banyak sekali hal positif, seperti budaya, perkembangan ekonomi, tempat wisata, pendidikan, teknologi, dll. Di samping itu, para delegasi dapat belajar banyak mengenai aspek-aspek seperti pemerintahan, budaya, ekonomi, serta sosial negara-negara lain yang dapat dibandingkan dan diimplementasikan di Jakarta. Terlebih, JSCYP memiliki Post Program Activity yang mana sepulang dari Beijing, para delegasi Jakarta akan membuat suatu kegiatan kepemudaan yang akan memberikan dampak positif bagi pengembangan pemuda di Jakarta.

ST: Dari delegasi tahun-tahun sebelumnya, kita dapat melihat melalui pengalaman mereka ketika sedang berada di sister city seperti Beijing, Berlin, Seoul, dll. Bagaimana kontingen negara lain merespon dengan sangat luar biasa dan antusias terhadap kontingen Indonesia. Kita sangat siap dan selalu penuh kejutan. Dari aktivitas yang dilakukan kita dapat melihat bahwa pemuda Indonesia dengan serius menanggapi isu-isu seperti kewirausahaan, lingkungan, pemerintah, sosial, dan yang lainnya. Kita dengan antusias ingin berkerjasama dengan negara lain untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat dalam menyelesaikan masalah di Indonesia, dan tentunya kita juga siap membagikan apa yang telah kita kerjakan di Indonesia untuk dipelajari oleh kontingen lain.

Kalian adalah tambahan baru ntuk kotak krayon. Warna apakah kalian dan mengapa?

AN: Biru laut. Karena dapat memberikan kedalaman dan ketenangan bagi siapapun yang melihatnya.

SC: It is definitely a green. Hijau adalah warna kehidupan, pembaruan, alam, dan energi, serta banyak diasosiasikan dengan pertumbuhan, keselarasan, kesegaran, serta lingkungan. Hijau secara tradisional juga dihubungkan dengan keuangan dan perbankan.

ST: Warna merah, karena pada dasarnya merah melambangkan semangat yang berarti semangat untuk terus belajar, mendapatkan pengalaman luar biasa, dan semangat untuk berkontribusi kepada komunitas dan masyarakat.

Apa harapan kalian sekembalinya dari Beijing nanti?

AN: Harapan kami sebagai delegasi, Program PPA yang direncanakan dapat terealisasi dengan lancar. Sehingga keinginan untuk memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar pun tidak hanya menjadi suatu gagasan semata. Serta dapat membawa jaringan sebanyak-banyak, sehingga JSCYP memiliki sister city lainnya di berbagai belahan dunia.

SC: Tentunya harapan terbesar saya adalah dapat menjaga hubungan serta koneksi dengan para delegasi dari negara lain sehingga semakin besar peluang untuk dapat berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk melakukan hal-hal positif seperti kerjasama organisasi kepemudaan, pertukaran pelajar, bahkan untuk karir kedepannya. Juga, saya berharap dapat merealisasikan Post Program Activity (PPA) dengan baik dan bermanfaat sepulang dari Beijing.

ST: Harapan saya adalah dapat terbentuk jaringan yang luas dan kuat. Hal ini berguna untuk membuka peluang bagi pemuda Indonesia untuk terlibat lebih ekstensif dan luas di kota-kota selain Beijing. Dan pengalaman yang saya dapatkan selama di Beijing akan meningkatkan kapasitas saya sebagai pribadi yang semakin inovatif, semangat dan berjiwa sosial tinggi. Saya berharap kerjasama lebih lanjut dengan komunitas pemuda negara lain walaupun sudah kembali ke negara masing-masing, saling mendukung dalam bentuk ide, program, pertukaran pemuda dan sebagainya untuk Jakarta yang lebih baik.

Selamat berjuang, The Gentlemen!


This is Episode 0 of Diary Beijing 2017 series.

 

Tinggalkan Komentar