Berita dan Pengumuman

Secangkir Kopi dengan Gideon Satria dan Rendy Wicaksana

Beberapa hari lalu, kami berkesempatan untuk berkopi darat dengan Rendy Wicaksana dan Gideon Satria Putra, alumni Jakarta Sister City Youth Program (JSCYP). Rendy yang sebelumnya mengikuti JSC Beijing 2013 merupakan ketua JSCYP di tahun 2013-2016 dan saat ini bekerja sebagai penyiar di salah satu stasiun TV nasional. Sedangkan Gideon yang aktif sebagai pembicara publik ini baru saja terpilih menjadi ketua JSCYP untuk masa jabatan 2016-2017, menggantikan Rendy. Pria yang akrab dipanggil Dion ini merupakan satu dari tiga delegasi JSC Beijing 2016.

Rendy dan Gideon

Untuk menyambut seleksi JSC Beijing 2017 yang akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, kami mewawancarai mereka berdua untuk sekedar membagikan cerita dan pengalaman mereka mengikuti program JSCYP. Berikut adalah wawancara kami bersama mereka. Jawaban dari Rendy ditandai dengan huruf ‘R’ dan Gideon ‘G’.

Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata ‘pemuda’?

R: Passion, Ambition, Hope.
G: Passionate! Berkembang!

Apa yang membuat kalian bergabung dengan JSCYP? Apa yang memotivasi kalian?

R: Tentunya bisa berangkat ke Tiongkok secara gratis jadi motivasi utama. Dengan segala kearifan lokal dan pengaruh ekonomi yang Tiongkok miliki, adalah sebuah keharusan bagi setiap pemuda yang tertarik kepada budaya dan politik untuk mempelajari negara ini. Sungguh Tiongkok memberikan pengalaman yang luar biasa untuk saya. Setiap situs wisata dan museum yang saya kunjungi meninggalkan kesan yang luar biasa di benak saya, mulai dari kisah sejarah hingga peninggalan prasastinya yang begitu luar biasa rapih dan tercatat.

G: I live from story to stories. Saya sangat suka bertemu dengan orang-orang baru terlebih tergabung dalam komunitas yang positif yang dapat memberikan kesempatan untuk saya belajar lebih dan tentunya berkontribusi lebih banyak. JSCYP memberikan kesempatan itu, yakni menjadi delegasi DKI Jakarta dan Indonesia di acara kepemudaan skala internasional. Sehingga, kita dapat bertemu pemuda-pemudi terpilih yang sudah tergabung dalam IKAP JSCYP dan juga dapat bertemu pemuda-pemudi delegasi luar negeri.

Untuk Rendy, apa tantangan terbesar yang kamu hadapi sebagai Ketua JSCYP? Bagaimana kamu mengatasinya?

R: Tantangannya adalah membagi waktu antara kerja, kerja sampingan, dan memimpin organisasi ini. Melatih kesabaran sekali karena memerlukan manajemen waktu yang sangat baik agar bisa terus menjalankan program. Selain itu JSCYP juga pernah dapat ‘cobaan’ ketika Pemprov meniadakan program di tahun 2015. Tapi berkat dukungan dan dorongan teman-teman kita berhasil melobi kembali dengan memunculkan satu program ke Beijing meski dengan segala keterbatasan yang ada.

Dapatkah kamu berbagi dengan kami beberapa momen terbaik yang kamu dapatkan di JSCYP yang tidak terlupakan?

R: Moment terbaik di JSCYP adalah melihat dan mendengar pemuda-pemudi yang terpilih setelah melalui proses seleksi yang kompetitif. Rasanya sungguh bahagia bisa terlibat dalam mengorganisasikan program yang bisa memberi ruang untuk pemuda pemuda potensial pergi melihat dunia luar. Kata alhamdulillah atau sekedar teriakan tidak percaya ditelpon ketika pengumuman pemuda terpilih memancarkan energi positif yang menular. Senang rasanya mengetahui dan melihat ratusan pemuda penuh harapan dan motivasi setiap tahunnya untuk berpartisipasi dengan sejuta ide yang mereka miliki.

Apa yang membuat JSCYP berbeda?

R: Kita mandiri. Kita keluarga. Kita terdiri dari pemuda pemuda yang hadir untuk membawa perubahan, setidaknya untuk diri sendiri yang lebih baik. Diri yang lebih baik tentu membawa perubahan yang baik untuk lingkungan sekitarnya.

G: JSCYP tidak hanya memilih pemuda untuk dikirimkan menjadi duta bangsa ke luar negeri. Namun, JSCYP juga memberikan kesempatan pemuda Jakarta untuk saling menginspirasi dan berkontribusi. Sebelum keberangkatan, JSCYP memberikan pelatihan yang tidak hanya bermanfaat saat konferensi atau kegiatan internasional berlangsung, namun juga menjadi bekal selanjutnya. Selain itu, kerjasama dengan kota kembar Jakarta membuat program ini lebih khusus, karena pemuda dapat melihat kondisi Jakarta dengan gambar yang berbeda. Dan dari gambar tersebut, dapat muncul ide, pemikiran, serta inovasi untuk Jakarta yang lebih baik.

Untuk Gideon, bagaimana JSCYP akan berbeda di bawah kepengurusanmu?

G: Saya merasa JSCYP diisi oleh pemuda-pemuda yang sangat bertalenta, memiliki kritis, dan tentunya memiliki kerinduan untuk berkontribusi terhadap sekitar sesuai dengan keahlian masing-masing. Saya berharap dalam pengurusan ini, JSCYP dapat memfasilitasi seluruh alumni untuk memberikan kontribusi nyata (kecil maupun besar) berdasarkan bidang dan kemampuan mereka masing-masing.

Dalam skala satu ke Korea Utara*, seberapa weird kalian?

[Rendy dan Gideon sama-sama memilih 2 – sedikit weird]

Berapa banyak marshmallow yang bisa kalian masukkan ke dalam mulut kalian?

R: 5.
G: 8.

Bagaimana JSCYP bisa menyoroti apa yang bisa dilakukan pemuda Indonesia kepada dunia?

R: JSCYP menunjukkan banyaknya pemuda pemudi potensial yang mampu berkompetisi di dunia global. Delegasi yang pergi ke Beijing Youth Camp setiap tahunnya menunjukkan hal tersebut. Persiapan matang mengenai budaya dan ibukota selalu membuat ratusan delegasi dari negara sahabat terkesan dengan mereka. Hal ini saja mampu memberikan citra yang sangat positif di mata dunia melalui pemudanya. Jika setiap tahun kita bisa memberi kesan hebat kepada seratus pemuda, bisa anda bayangkan berapa pemuda dunia yang memiliki kesan baik terhadap Jakarta dan Indonesia selama sepuluh tahun ke depan? 1000! Bayangkan seribu orang ini bercerita, menulis blog, dan menyebarkan citra baik mengenai Indonesia yang mereka dapatkan ke teman teman mereka. Lantas berapa orang yang kemudian mengenal baik citra Jakarta dan Indonesia? Sebuah investasi yang luar biasa untuk bekal pemimpin masa depan negara.

G: Meskipun sejauh ini JSCYP hanya melakukan seleksi satu kali dalam satu tahun, namun bukan berarti kontribusi pemuda hanya dapat dilakukan pada momen itu saja. Keanggotaan JSCYP adalah layaknya keluarga yakni seumur hidup. Sehingga, proses saling belajar dan memberikan pengaruh positif terhadap sekitar baik anggota JSCYP maupun pemuda DKI Jakarta dan Indonesia secara umum tetap dilakukan secara berlanjut. Salah satunya adalah melalui program PPA atau Post Program Activities, yakni program yang mengajak delegasi untuk berbagi pengalaman dan ilmu yang dimiliki kepada sekitar.

Harapan, saran, serta bimbingan untuk calon delegasi tahun 2017?

R: Yang kita punya di 2016 sungguh mengagumkan dan membanggakan! Wallahii! Gideon jadi ketua. Deny** meski nan jauh di sana tapi sangat kontributif, dan Regina** yang cerdas pandai menari dan sangat bertalenta. Standar yang sangat tinggi untuk seleksi mendatang.

G: Be the best version of yourself.


* 1 – tidak weird, 2 – sedikit weird, 3 – weird, 4 – sangat weird, Korea Utara – Kim Jong-un weird
** Deny dan Regina merupakan delegasi JSC Beijing 2016 bersama Gideon.

Tinggalkan Komentar